Tampilkan postingan dengan label pacu jalur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pacu jalur. Tampilkan semua postingan

Minggu, Agustus 09, 2009

Event Nasional Pacu Jalur Tradisional 2009 berakhir

Puti Mandi Mayang Terurai Juara

Pacu Jalur
adalah sejenis lomba perahu yang dilaksanakan pada bulan Agustus setiap tahun di Kota Teluk Kuantan bersempena dengan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia merupakan tradisi turun temurun masyarakat Rantau Kuantan semenjak ratusan tahun silam.
Event Pacu Jalur ini biasanya dilaksanakan pada tanggal 24-27 Agustus itu pada tahun 2009 ini dilaksanakan pada tanggal 6 – 9 Agustus 2009 untuk mengantisipasi bulan puasa. Acara yang berlangsung sangat meriah selama empat hari ini di buka secara resmi oleh Gubernur Riau Bapak Rusli Zainal,SE,MP (Sang Visioner) pada tanggal 6 Agustus 2009. Turut hadir pada acara pembukaan antara lain Bupati Kuantan Singingi H Sukarmis, Ketua DPRD Kuantan Singingi Marwan, S.Sos, Datuk Bisai (Edyanus Herman Halim, SE) dan undangan lainnya.

Pada acara pacu jalur hari terakhir jalur-jalur yang masih bertahan bersaing sangat ketat. Diantara jalur yang masih tersisa pada hari ke empat adalah Upiah Sarok Rimbo Dusun dari Pasar Baserah juara satu pacu jalur di Kecamatan Kuantan Hilir tahun 2009, jalur Puti Mandi Mayang Terurai dari Desa Rantau Sialang juara satu pacu jalur di Kecamatan Benai, sedangkan jalur Soriak Sarumpun juara satu pacu jalur di Kecamatan Kuantan Mudik gagal melaju ke final. Selain itu ada jalur Toduang Biso Rimbo Piako dari desa Paboun Hilir, Panglimo Olang Putiah dari desa Sei Alah, Kala Jengking Tigo Jumbalang dari desa Sei Manau, Delima Indah Permata Intan dari desa Saik, Ngiang Kuantan Cahayo Nagori dari Kampung Baru Toar, Gelombang Putih Danau Keramat dari desa Bukit Pedusunan dan Batu Lompatan Harimau Kompe dari desa Kinali.

Pada putaran final terjadi persaingan segitiga antara jalur Toduang Biso Rimbo Piako, Upiah Sarok Rimbo Dusun dan Puti Mandi Mayang Terurai. Pada pencabutan undian final pacu jalur 2009 Toduang Biso Rimbo Piako berhadapan dengan jalur Upiah Sarok Rimbo Dusun, sedangkan jalur Puti Mandi Mayang Terurai menang menunggu. Pada hilir pertama putaran final antara jalur Toduang Biso Rimbo Piako jalan sebelah kiri berhadapan dengan jalur Upiah Sarok Rimbo Dusun pada jalan sebelah kanan dimenangkan oleh jalur Toduang Biso Rimbo Piako. Hilir kedua final antara jalur Toduang Biso Rimbo Piako berhadapan dengan jalur Puti Mandi Mayang Terurai yang menang adalah jalur Puti Mandi Mayang Terurai. Berdasarkan peraturan pacu jalur, jalur Puti Mandi Mayang Terurai berhak menyandang juara pertama pacu jalur tahun 2009 dan mendapat hadiah berupa hewan ternak, piagam dan tonggol juara.

Hasil selengkapnya Events Pacu Jalur Tradisional 2009 di Tepian Nerosa Teluk Kuantan adalah, juara pertama jalur Puti Mandi Mayang Terurai dari desa Rantau Sialang Kec. Kuantan Mudik, jura kedua jalur Toduang Biso Rimbo Piako dari desa Peboun Hilir Kec. Kuantan Mudik, juara ketiga jalu Upiah Sarok Rimbo Dusun dari Pasar Baserah Kec. Kuantan Hilir. Selanjutnya posisi keempat sampai kesepuluh berturut-turut Kalajengking Tigo Jumbalang, Panglimo Olang Putiah, Batu Lompatan Harimau Kompe, Ngiang Kuantan Cahayo Nagori, Delima Indah Permata Kuantan, Gelombang Putiah Danau Keramat, Siluman Buayo Danau 2009.(yuf)

Kamis, Juli 30, 2009

Pacu Jalur Tradisional Kuantan Singingi


'Jalur' is a kind of long canoe or longboat made from a large timber measuring approximately the length of 25 to 35 meters that rowed by 40 to 55 people.
"Pacu Jalur' is a long canoe or boat racing event which is a tradition of Kuantan Singingi community that have been hereditary since the time of pre-independence of the Republic of Indonesia. Initially, the ‘pacu jalur’ is an event held by the people who lived in the area of Batang Kuantan river known as the Rantau Kuantan area at the time of rice harvest is completed.
In the old days the river of Batang Kuantan play an important role as a medium of transportation, especially to carry the harvest of rice, coconut, rubber by boat or canoe etc. As an expression of excitement the farmers race while, carry rice harvest. After the independence of Republic of Indonesia, ‘Pacu Jalur’ event held on August every year in Teluk Kuantan Kabupaten Kuantan Singingi, Riau, Indonesia.

'Pacu jalur' adalah acara lomba perahu panjang yang merupakan tradisi masyarakat Kuantan Singingi yang sudah turun temurun semenjak zaman pra kemerdekaan Republik Indonesia. 'Jalur' adalah sejenis perahu panjang (long canoe) yang dibuat dari sebatang kayu besar berukuran panjang kurang lebih 25 sampai 35 meter. Jalur ini di dayung oleh 40 sampai 55 orang pendayung.

Pada awalnya acara pacu jalur ini adalah suatu acara yang diadakan oleh masyarakat yang bermukim di daerah aliran sungai Batang Kuantan yang dikenal dengan sebutan Rantau Kuantan pada saat selesai panen padi. Pada zaman dahulu sungai Batang Kuantan memegang peranan yang sangat penting sebagai media transportasi terutama untuk mengangkut hasil panen padi, kelapa, karet dan lainnya. Sebagai ungkapan kegembiraan karena mendapatkan hasil panen yang berlimpah para petani berlomba sambil mengangkut padi dengan perahu.

Pacu Godok
Lama-kelamaan acara pacu perahu sambil mengangkut padi berkembang menjadi pacu jalur. Pada waktu itu sebagai hadiahnya adalah berupa umbul-umbul berbentuk segitiga (tonggol) yang diperebutkan oleh anak pacu. Setelah selesai pacu maka diadakan acara makan makanan tradisional Rantau Kuantan berupa puluik kucuang, lopek, lomang batang dan godok.
Karena pada setiap ada acara pacu jalur selalu disediakan makanan berupa godok (sejenis makanan yang terbuat dari tepung di campur dengan pisang dan digoreng) sehingga acara ini sering juga disebut dengan pacu godok.

Seiring dengan perkembangan zaman pada era penjajahan Belanda acara pacu jalur ini oleh pemerintahan Hindia Belanda diadakan untuk memeriahkan Hari Ulang Tahun Ratu Wilhelmina yaitu ratu Kerajaan Belanda waktu itu. Setelah Indonesia merdeka acara pacu jalur diadakan untuk menyambut dan memeriahkan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang diadakan setiap tahun pada bulan Agustus sampai sekarang orang Rantau Kuantan menyebutnya dengan ‘Tambaru’ maksudnya Tahun Baru HUT Republik Indonesia.

Pacu Jalur terbesar di kota Teluk Kuantan
Event pacu jalur ini biasanya diadakan di beberapa kecamatan yang berada dalam wilayah Kabupaten Kuantan Singingi diantaranya di Kecamatan Kuantan Hilir yang diadakan di Tepian Lubuk Sobae Baserah, di Kecamatan Benai diadakan di Tepian Pincuran Sakti Pasar Benai, di Kecamatan Kuantan Mudik di Lubuk Jambi dan yang terbesar dan terneriah yang banyak dikunjungi oleh wisatawan terutama wisatawan lokal, domestik maupun manca negara adalah event Pacu Jalur yang diadakan di Kota Teluk Kuantan ibu kota Kabupaten Kuantan Singingi.

Nilai-nilai yang terkandung dalam acara Pacu Jalur.
Sebagai acara tradisi masyarakat tentunya pada event pacu jalur ini penuh dengan nilai-nilai yang terkandung didalamnya seperti nilai mistis dan magis, nilai gotong royong serta nilai seni dan budaya.
Nilai mistis dan magis ini terlihat masih kental sekali yakni berperannya dukun jalur pada setiap tahap ketika jalur akan ikut berpacu. Disini dukun jalur berperan dalam menentukan langkah kapan jalur harus turun ke sungai, kapan waktunya berangkat ke lokasi pacu jalur. Bahkan pada saat-saat akan mengisi jalur dan berangkat ke pancang start, jalur harus dibacakan mantra dulu oleh dukun jalur supaya jalurnya menang pada saat berpacu nantinya.
Sedangkan nilai gotong-royong sudah terlihat ketika penduduk desa yang ingin membuat jalur. Dimulai dari rapat desa pembentukan panitia/pengurus jalur, pengumpulan dana, ‘maelo’ atau menarik jalur dari hutan sampai ke desa, saat ikut acara pacu jalur semuanya dilakukan secara gotong-royong warga masyarakat desa yang memiliki jalur tersebut.
Nilai seni dan budaya terlihat pada hiasan, ukiran yang terdapat pada masing-masing jalur. Juga nilai-nilai berkesenian yang selalu menyertai acara pacu jalur berupa calempong rarak godang, randai dan sebagainya.

Tahap-tahap Pembuatan Jalur

Musyawarah Desa
Sebelum mengadakan musyawarah atau rapat desa kepala desa dengan pemuka masyarakat berembug untuk mengadakan rapat desa. Setelah waktu dan tempat untuk rapat disepakati maka kepala desa akan menyuruh tukang canang memukul canang untuk mengumumkan bahwa besok akan diadakan rapat desa membahas pembentukan penguru/panitia jalur. Bunyinya kira-kira seperti dibawah ini

“Hai urang kampuang iko la tibo pulo parintah dari Pak Wali. Isuak malam kito rapek mambontuak pangurus jaluar. Pamuda-pamudi diwajibkan datang isuak malam, sasudah sholat isya’ batompek di surau Siriah. . . . “
Artinya:
“Wahai orang desa telah tiba perintah pula dari kepala desa. Besok malam kita rapat membentuk pengurus jalur. Pemuda-pemudi diwajibkan datang besok malam, sesudah sholat Isya’ bertempat di surau Sirih . . . .”


Sebelum membuat jalur biasanya diadakan rapat desa yang dihadiri oleh segenap warga desa membentuk panitia/pengurus jalur. Setelah panitia atau pengurus terbentuk biasanya juga dibicarakan bagaimana untuk mendapatkan dana karena biaya pembuatan sebuah jalur menghabiskan puluhan juta rupiah dan siap tukang yang akan disuruh untuk membuat jalur tersebut.

Mencari kayu jalur ke hutan.
Tahap selanjutnya adalah mencari kayu jalur ke hutan, kayu yang dipilih haruslah kayu yang besar dan panjang yang memenuhi syarat untuk membuat sebuah jalur. Apabila kayu yang akan dijadikan jalur didapat, sebelum kayu ditebang harus dibacakan mantra terlebih dahulu dan melepaskan seekor ayam berwarna putih atau hitam sesuai dengan petunjuk sang dukun, sebagai pengganti kayu yang ditebang. Tukang jalur akan mengolah kayu jalur di dalam hutan menjadi jalur setengah jadi.

Tahap berikutnya adalah ‘maelo’ atau menarik jalur.
Sebelum acara maelo jalur Kepala desa seperti biasanya akan menyuruh pemukul canang untuk memberitahukan kepada seluruh warga desa bahwa esok pagi sesuai kesepakatan bersama warga desa akan mengadakan kegiatan ‘maelo’ atau menarik jalur dari hutan. Bunyinya kira-kira sebagai berikut:

“Wahai urang banjar iko la tibo pulo parintah dari Pak Wali. Isuak kolam kito maelo jaluar ka rimbo kukok. Nan jantan jaan lupo mambao ladiang, kapak, baliwuang cam. Na batino jaan lupo mambao nasi, ayier, kue, lopek, godok timbual, kalau dapek bao pulo lomang jo tapai untuak bokal kito maelo jalur . . . .
Artinya:

“Wahai orang-orang desa telah tiba pula perintah dari kepala desa. Besok pagi kita akan menarik jalur ke Rimba Kukok. Yang laki-laki jangan lupa membawa parang, kapak dan juga beliung.Yang perempuan jangan lupa membawa nasi, air, kue, lepat, godok, kalau dapat bawa juga lemang dan tapai untuk bekal kita menarik jalur. . . .”

Warga desa secara bersama-sama laki-laki dan perempuan dan juga mengundang warga desa tetangga mengadakan acara ‘maelo’ atau menarik jalur dari hutan sampai ke desa. Semua bekal berupa nasi, kue dan lauk-pauk untuk maelo jalur biasanya disediakan oleh warga desa yang membuat jalur sedangkan undangan tidak diwajibkan membawa bekal. Acara maelo jalur ini biasanya memakan waktu berbulan-bulan baru kayu jalur tadi sampai ke desa.
Setelah kayu jalur sampai ke desa maka tukang jalur melanjutkan pembuatan jalur sampai selesai

Mandiang jalur
Tahap berikutnya pembuatan jalur tradisional Kuantan Singingi adalah mendiang jalur. Mendiang berarti membakar jalur diatas api untuk membentuk badan jalur supaya kelihatan bagus dan rapih yang diharapkan menjadi jalur yang laju dan menjadi juara pada event-event pacu jalur nantinya. Pada saat acara mendiang jalur juga disertai acara kesenian seperti randai (melo drama) tradisional, calempong rarak godang atau acara berbalas pantun yang diiringi alunan biola.

Tahap terakhir adalah finishing
Pada tahap ini dilakukan pekerjaan-pekerjaan akhir untuk menghaluskan dan memperbaiki yang masih belum sempurna membuat dayung, silek bayuang dan sebagainya. Kemudian baru dilakukan pengecatan dan membuat hiasan dan ukiran agar jalur terlihat bagus dan mempunyai nilai seni.(yuf)

Kamis, Januari 15, 2009

Toluak Kuantan, Rondang paku palomak makan dan guru yang “killer itu

Carito lamo:
Toluak Kuantan, Rondang paku palomak makan dan guru yang “killer itu”.

Pada masa-masa sulit dahulu tahun 60 s/d 70-an kota Teluk Kuantan (Toluak) merupakan pusat pendidikan dimana banyak anak-anak dari luar daerah setelah tamat SLTP pergi melanjutkan sekolahnya di Teluk Kuantan, waktu itu baru ada beberapa sekolah setingkat SMA sekarang, seperti SPG, Madrasah Mualimin Muhammadiyah dan lain-lain.

SPG Negeri merupakan sekolah favorit waktu itu, sekolah yang mendidik calon guru sekolah dasar. Pada awalnya SPG merupakan gedung bekas sekolah Cina dahulunya, pada zaman Indonesia baru merdeka sekolah itu diambil alih oleh pemerintah Indonesia zaman Orde Lama dulu, namun SPG itu pun sudah tidak ada lagi, sekarang sudah menjadi Pasar Rakyat.

Kalau ditanya apa motivasi mereka melanjutkan sekolah di SPG, pasti mereka mengatakan supaya mudah dapat kerja menjadi pegawai negeri. Setelah tamat SPG mereka langsung diangkat menjadi guru, sehingga tidak heran banyak orangtua yang berlomba-lomba memasukan anaknya ke sekolah itu.

Walaupun pada waktu itu gaji guru jauh dari mencukupi untuk kebutuhan hidup sehari-hari, hanya cukup untuk satu dua minggu, tidaklah sebesar seperti sekarang ini, para orangtua tetap berkeinginan memasukan anaknya ke sekolah, itu supaya anaknya setelah tamat menjadi guru. Tidaklah berlebihan kalau Toluak dikatakan kota tempat mencetak guru sekolah dasar, karena memang pada umumnya orang Toluak berprofesi sebagai guru, terutama guru sekolah dasar.

Kalau kita lihat pada waktu tahun 70-an itu mulai dari Lubuk Jambi sampai ke Tembilahan setiap ada Sekolah Dasar pasti ada orang Toluak yang menjadi guru disitu. Sehingga ada pameo jika ada orang Toluak tersesat tidak tahu harus kemana di daerah Tembilahan (baca: Indragiri Hilir) ‘poilah ka sakolah nan ado di dokek itu pasti ado gurunyo urang Toluak’, itu pertanda orang Toluak memang dahulunya banyak berprofesi sebagai guru.

Ketika saya bermukim di Selatpanjang juga ada tokoh masyarakat yang mengatakan bahwa orang Toluak itu pintar-pintar, ketika saya tanya kenapa begitu pak..., ya memang orang Toluak (Teluk Kuantan) itu pintar-pintar katanya, sebut saja Bapak Abdoel Raoef yang pernah menjadi Wedana dulunya disini (maksudnya di Selatpanjang), Umar Usman dan tokoh masyarakat Toluak lainnya katanya. Mudah-mudahan apa yang dikatakan oleh bapak itu ada penggantinya, dan itu menjadi tugas kita semua terutama para pemuda agar perjuangan tokoh-tokoh besar masyarakat Rantau Kuantan supaya cita-cita menjadikan Rantau Kuantan Singingi maju dan makmur dapat tercapai.

Rondang Paku Palomak Makan

Kalau kita bercerita mengenai makanan yang sangat disukai pada waktu itu adalah ‘lomang, puluik kucuang, puti mandi, lopek inti dan rondang paku’. Paku yang dimaksud dengan paku disini bukanlah paku yang digunakan untuk membangun rumah, tetapi sejenis tumbuhan ‘pakis’ yang masa itu banyak tumbuh di Rantau Kuantan.

Rondang paku adalah sejenis masakan yang terbuat dari daun pakis yang dimasak dengan santan kelapa dan bumbu masak lainnya sampai santannya kering menjadi berupa rendang. Anak sekolah yang berasal dari Cerenti, Pangean, Simandolak, Lubuk Jambi dan sebagainya yang jauh dari kota Teluk Kuantan setiap hari Sabtu sore pulang ke kampungnya dan pada Minggu sore akan kembali lagi ke Teluk Kuantan menuntut ilmu seperti biasanya dengan membawa bekal untuk satu minggu berikutnya, tidak lupa rendang paku ikut dibawa karena rendang paku tahan untuk bekal selama satu minggu.

Di Teluk Kuantan mereka tinggal di rumah orangtua angkatnya, menyewa rumah sendiri atau bersama temannya. Desa sawah dan Koto mejadi tempat mereka tinggal yang disukai karena dekat dengan sekolah. Namun betapapun sulitnya masa itu anak muda Rantau Kuantan tetap menuntut ilmu sampai cita-citanya menjadi guru tercapai.

Guru yang ‘killer’ itu

Mengigat masa-masa menuntut ilmu dulu itu ada banyak suka dan dukanya. Ketika itu belum ada transportasi seperti sekarang ini dimana anak sekolah sudah memakai sepeda motor, dan jalan yang mulus beraspal. Transpotasi andalan pada masa itu adalah sepeda reseng (Bhs Inggris: rising) ataupun sepeda unto bahkan ada yang berjalan kaki.

Kalau berbicara mengenai suka dan duka menuntut ilmu, tentu banyak suka dan banyak pula dukanya, tetapi itu tidak menjadi penghalang untuk mencapai cita-cita yang mulia yaitu menjadi ‘Cikgu’. Kalau sukanya adalah pada saat diadakannya acara Pacu Jalur tradisional Rantau Kuantan pada bulan Agustus, kegiatan pacu jalur ini sudah ada semenjak zaman Belanda dulu.

Dahulunya pacu jalur diadakan saat setelah musim panen padi selesai, sebagai tanda syukur kepada Allah SWT masyarakat Rantau Kuantan mengadakan pacu jalur yang disebut ‘pacu godok’ karena setelah selesai acara pacu jalur biasanya masyarakat makan godok (sejenis kue) bersama-sama. Kemudian pada zaman penjajahan Belanda kegiatan pacu jalur diadakan untuk memperingati hari ulang tahun Ratu Wilhelmina, Ratu Kerajaan Belanda waktu itu, barulah setelah Indonesia merdeka pacu jalur diadakan untuk memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang diadakan pada bulan Agustus setiap tahunnya, dan sekarang pacu jalur sudah masuk kalender pariwisata nasional.


Kalau dukanya juga ada, menurut beberapa orang tamatan SPG waktu itu menceritakan kepada saya duka menuntut ilmu ketika itu adalah karena guru-gurunya terkenal disiplin dan tegas terhadap muridnya. Tersebutlah salah satu guru yang paling disiplin diwaktu mengajar, bila ada murid yang main-main dan tidak memperhatikan guru yang sedang menerangkan pelajaran pastilah dia akan mendapat ganjaran. Abdoel Munir nama guru itu, beliau mengajar mata pelajaran bahasa Inggris dan Seni Suara. Ia memang terkenal ‘killer’, Pak Muniang killer istilah mereka, bila ada murid yang tidak memperhatikan dipastikan akan dapat teguran bahkan tinju dan tamparan di pipi, tapi dia tidak pernah dendam dan sakit hati terhadap muridnya yang nakal, dia dengan senang hati tetap mengajar dan tidak bosan-bosannya menasihati murid-muridnya supaya nanti menjadi orang yang berguna bagi nusa, bangsa dan agama, dia adalah guru sejati...., pahlawan tanpa tanda jasa..., dia telah lama tiada, selamat jalan Cikgu,.. selamat jalan pamanku!

Senin, Januari 05, 2009

Kabupaten Kuantan Singingi Menuju Kabupaten Digital


Kantor Bupati

Kabupaten Kuantan Singingi adalah salah satu dari 8 kabupaten di Propinsi Riau yang dimekarkan berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 53 Tahun 1999 Tentang Pembentukan Kabupaten Pelalawan, Kabupaten Rokan Hulu, Kabupaten Rokan Hilir, Kabupaten Siak, Kabupaten Karimun, Kabupaten Natuna, Kabupaten Kuantan Singingi, Dan Kota Batam, dimana kabupaten Kuantan Singingi sebelumnya adalah merupakan bagian dari Kabupaten Inderagiri Hulu. Ibukota berpusat di Teluk Kuantan Luas wilayah 7.656 km² 215.114 jiwa. Kepadatan penduduk 28 jiwa/km².

Pada saat ini Kabupaten Kuantan Singingi terdiri dari 12 kecamatan yaitu: Kecamatan Hulu Kuantan, Kecamatan Kuantan Mudik, Kecamatan Gunung Toar, Kecamatan Kuantan Tengah, Kecamatan Singingi, Kecamatan Singingi Hilir, Kecamatan Benai, Kecamatan Pangean, Kecamatan Logas Tanah Darat Kecamatan Kuantan Hilir, Kecamatan Inuman dan Kecamatan Cerenti.



Kantor Bappeda

Topografi

Kabupaten Kuantan Singingi terdiri dari dataran rendah dan dataran tinggi kira kira 400 m di atas permukaan laut. Dataran tinggi di daerah ini cenderung berangin dan berbukit dengan kecenderungan 5 – 300. Dataran tinggi berbukit mencapai ketinggian 400-800 m di atas permukaan laut dan merupakan bagian dari jajaran Bukit Barisan.(wikipedia)

Kuansing Gesa Pembangunan

Meskipun baru berumur setahun jagung (baca: 9 tahun)Kabupaten Kuantan Singingi berusaha mengejar ketinggalannya dari kabupaten-kabupaten yang telah lama berdiri. Beberapa indikator yang menunjukkan hal tersebut adalah digesanya pembangunan fisik dan non fisik untuk mewujudkan Kabupaten Kuantan Singingi yang maju berbudaya dan agamis dengan motto “BASATU NOGORI MAJU”. Pembangunan fisik yang telah dilaksanakan Pemerintah Daerah Kabupaten Kuantan Singingi antara lain pembangunan Komplek Perkantoran Pemda yang berlokasi di kawasan Sinambek, pembangunan RSUD, Gedung Pertemuan Abdoel Raoef, Pasar Rakyat, Taman Arena Pacu Jalur dan lainnya. Disamping itu untuk juga telah dibangun ratusan kilometer jalan dan jembatan untuk membuka akses ke desa-desa terpencil di seluruh wilayah kabupaten.

Teluk Kuantan Waterfront City

Kota Teluk Kuantan yang merupakan ibukota kabupaten sekaligus sebagai pusat pemerintahan dengan konsep waterfont city dimana kota menghadap ke sungai Kuantan telah dibangun berbagai infrastruktur seperti Taman Jalur yang merupakan taman tempat bermain dan bersantai bagi masyarakat. Di pinggir sungai juga dibangun turap penahan tebing, yang berfungsi sebagai pengaman tebing supaya tidak longsor akibat erosi arus sungai dan sekaligus sebagai tempat wisatawan lokal maupun domestik menonton pacu jalur yang diadakan setiap bulan Agustus setiap tahun.

Telekomunikasi

Layanan PT Pos Indonesia sudah mencakup ke seluruh bagian daerah yang ada di Kabupaten Kuantan Singingi. Penduduk juga dapat berkomunikasi dengan menggunakan telepon, juga dengan pengembangan teknologi selular, sekarang hampir semua layanan telekomunikasi selular (Telkomsel, Indosat, XL dan Flexi dan PT. Sampurna Telekomunikasi Indonesia dengan produk Ceria-nya ) telah dapat di akses di seluruh daerah di Kuantan Singingi.


Kuantan Singingi Go Digital

Saat Pemerintah Pusat masih kasak-kusuk dengan tender USO (Universal Service Obligation) yang katanya untuk menyediakan infrastruktur telekomunikasi murah bagi masyarakat pedesaan, pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi sudah bertindak lebih jauh, dengan segala keterbatasan dana dan upaya, Pemda Kuantan Singingi berusaha menyediakan layanan akses internet broadband berupa HotSpot Wifi dengan bandwidth 1 mbps bagi masyarakat umum sampai ke kecamatan-kecamatan. Pada saat tulisan ini dibuat (5/1/2009) di Kabupaten Kuantan Singingi, secara bertahap pemerintah daerah telah memasang beberapa HotSpot diantaranya dikawasan Komplek Perkantoran Pemda Kuantan Singingi di Sinambek, di seputar Lapangan Limuno dan Taman Jalur, di Kecamatan Gunung Toar dan Kecamatan Inuman. Menurut Andi Muhammad Ilham sebagai Administrator jaringan, beberapa waktu yang lalu mengatakan untuk selanjutnya akan dipasang di setiap kantor-kantor Camat seperti Kantor Camat Benai dengan memanfaatkan jaringan SIAK Online. Di kota Teluk Kuantan juga sudah tersedia layanan internet Speedy dari PT. Telkom Indonsesia sehingga bagi warga masyarakat yang tinggal di kota Teluk Kuantan dan tidak mempunyai komputer dapat mengkases internet di warnet. Beberapa warnet yang ada di teluk Kuantan antara lain KuantanNet, Jalur Internet di Jln. Proklamasi Sei Jering, ClusterNet dan GlobalNet di Simpang Tiga dan AccessNet yang beralamat di depan SMKN 2 Teluk Kuantan.(yuf)


Turap Pengaman Tebing Sungai Kuantan


Pasar Rakyat


Jembatan Pulau Bungin jembatan ini menghubungkan seberang teluk dengan Kota Teluk Kuantan


Kota Teluk Kuantan terlihat bersih