Sabtu, September 12, 2009

Setelan Akses POP Surat Yahoo!




Untuk membaca Surat Yahoo! email client eksternal (seperti Eudora, Outlook, Netscape, dll.), Anda perlu mengkonfigurasi setelan server surat Masuk (POP) dan Keluar (SMTP) sehingga bisa mengirim dan menerima pesan dari Surat Yahoo! akun. Biasanya, Anda dapat menemukan setelan ini di dalam menu Tools atau Preferences dalam program email tersebut.


Penting: Jangan menghapus setelan surat masuk Anda

Jika selama ini Anda telah menerima surat dari server surat lain (seperti surat masuk ke alamat Anda pada ISP Anda), Anda perlu menambah sebuah akun POP baru. Kadang-kadang, akun baru ini disebut "profile" baru, kadang-kadang "personality" baru, tergantung pada email client tersebut. Jika email client Anda hanya membolehkan Anda menerima surat dari satu server POP pada satu waktu, pastikan Anda mencatat setelan saat ini sebelum menggantinya dengan Surat Yahoo! setelan sehingga Anda dapat mengubahnya kembali jika membutuhkannya. Di bawah ini adalah setelan server untuk mengakses Surat Yahoo!.


Setelan Server
Server Surat masuk (POP3): pop.mail.yahoo.co.id Gunakan SSL, port: 995
Server Surat Keluar (SMTP): smtp.mail.yahoo.co.id Gunakan SSL, port: 465, gunakan authentication.

Nama Akun/Nama Pengguna: misal shokin@yahoo.co.id. Alamat email: shokin@yahoo.co.id Sandi: Sandi Surat Yahoo! kamu


Kami memberikan petunjuk di bawah ini untuk mengkonfigurasi akses POP ke Surat Yahoo! untuk email client tertentu. Klien yang Anda gunakan mungkin tidak ada dalam daftar ini, dan setelan server bervariasi menurut klien. Ingatlah, bahkan setelah Anda mengkonfigurasi mail client untuk mengirim dan menerima pesan Surat Yahoo!, sehingga Anda dapat selalu masuk ke dalam akun Surat Yahoo! untuk mengirim dan menerima juga.
Untuk informasi yang lebih terinci tentang cara menyetel email client Microsoft Office Outlook 2003 klik disini

Minggu, Agustus 09, 2009

Event Nasional Pacu Jalur Tradisional 2009 berakhir

Puti Mandi Mayang Terurai Juara

Pacu Jalur
adalah sejenis lomba perahu yang dilaksanakan pada bulan Agustus setiap tahun di Kota Teluk Kuantan bersempena dengan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia merupakan tradisi turun temurun masyarakat Rantau Kuantan semenjak ratusan tahun silam.
Event Pacu Jalur ini biasanya dilaksanakan pada tanggal 24-27 Agustus itu pada tahun 2009 ini dilaksanakan pada tanggal 6 – 9 Agustus 2009 untuk mengantisipasi bulan puasa. Acara yang berlangsung sangat meriah selama empat hari ini di buka secara resmi oleh Gubernur Riau Bapak Rusli Zainal,SE,MP (Sang Visioner) pada tanggal 6 Agustus 2009. Turut hadir pada acara pembukaan antara lain Bupati Kuantan Singingi H Sukarmis, Ketua DPRD Kuantan Singingi Marwan, S.Sos, Datuk Bisai (Edyanus Herman Halim, SE) dan undangan lainnya.

Pada acara pacu jalur hari terakhir jalur-jalur yang masih bertahan bersaing sangat ketat. Diantara jalur yang masih tersisa pada hari ke empat adalah Upiah Sarok Rimbo Dusun dari Pasar Baserah juara satu pacu jalur di Kecamatan Kuantan Hilir tahun 2009, jalur Puti Mandi Mayang Terurai dari Desa Rantau Sialang juara satu pacu jalur di Kecamatan Benai, sedangkan jalur Soriak Sarumpun juara satu pacu jalur di Kecamatan Kuantan Mudik gagal melaju ke final. Selain itu ada jalur Toduang Biso Rimbo Piako dari desa Paboun Hilir, Panglimo Olang Putiah dari desa Sei Alah, Kala Jengking Tigo Jumbalang dari desa Sei Manau, Delima Indah Permata Intan dari desa Saik, Ngiang Kuantan Cahayo Nagori dari Kampung Baru Toar, Gelombang Putih Danau Keramat dari desa Bukit Pedusunan dan Batu Lompatan Harimau Kompe dari desa Kinali.

Pada putaran final terjadi persaingan segitiga antara jalur Toduang Biso Rimbo Piako, Upiah Sarok Rimbo Dusun dan Puti Mandi Mayang Terurai. Pada pencabutan undian final pacu jalur 2009 Toduang Biso Rimbo Piako berhadapan dengan jalur Upiah Sarok Rimbo Dusun, sedangkan jalur Puti Mandi Mayang Terurai menang menunggu. Pada hilir pertama putaran final antara jalur Toduang Biso Rimbo Piako jalan sebelah kiri berhadapan dengan jalur Upiah Sarok Rimbo Dusun pada jalan sebelah kanan dimenangkan oleh jalur Toduang Biso Rimbo Piako. Hilir kedua final antara jalur Toduang Biso Rimbo Piako berhadapan dengan jalur Puti Mandi Mayang Terurai yang menang adalah jalur Puti Mandi Mayang Terurai. Berdasarkan peraturan pacu jalur, jalur Puti Mandi Mayang Terurai berhak menyandang juara pertama pacu jalur tahun 2009 dan mendapat hadiah berupa hewan ternak, piagam dan tonggol juara.

Hasil selengkapnya Events Pacu Jalur Tradisional 2009 di Tepian Nerosa Teluk Kuantan adalah, juara pertama jalur Puti Mandi Mayang Terurai dari desa Rantau Sialang Kec. Kuantan Mudik, jura kedua jalur Toduang Biso Rimbo Piako dari desa Peboun Hilir Kec. Kuantan Mudik, juara ketiga jalu Upiah Sarok Rimbo Dusun dari Pasar Baserah Kec. Kuantan Hilir. Selanjutnya posisi keempat sampai kesepuluh berturut-turut Kalajengking Tigo Jumbalang, Panglimo Olang Putiah, Batu Lompatan Harimau Kompe, Ngiang Kuantan Cahayo Nagori, Delima Indah Permata Kuantan, Gelombang Putiah Danau Keramat, Siluman Buayo Danau 2009.(yuf)

Kamis, Juli 30, 2009

Pacu Jalur Tradisional Kuantan Singingi


'Jalur' is a kind of long canoe or longboat made from a large timber measuring approximately the length of 25 to 35 meters that rowed by 40 to 55 people.
"Pacu Jalur' is a long canoe or boat racing event which is a tradition of Kuantan Singingi community that have been hereditary since the time of pre-independence of the Republic of Indonesia. Initially, the ‘pacu jalur’ is an event held by the people who lived in the area of Batang Kuantan river known as the Rantau Kuantan area at the time of rice harvest is completed.
In the old days the river of Batang Kuantan play an important role as a medium of transportation, especially to carry the harvest of rice, coconut, rubber by boat or canoe etc. As an expression of excitement the farmers race while, carry rice harvest. After the independence of Republic of Indonesia, ‘Pacu Jalur’ event held on August every year in Teluk Kuantan Kabupaten Kuantan Singingi, Riau, Indonesia.

'Pacu jalur' adalah acara lomba perahu panjang yang merupakan tradisi masyarakat Kuantan Singingi yang sudah turun temurun semenjak zaman pra kemerdekaan Republik Indonesia. 'Jalur' adalah sejenis perahu panjang (long canoe) yang dibuat dari sebatang kayu besar berukuran panjang kurang lebih 25 sampai 35 meter. Jalur ini di dayung oleh 40 sampai 55 orang pendayung.

Pada awalnya acara pacu jalur ini adalah suatu acara yang diadakan oleh masyarakat yang bermukim di daerah aliran sungai Batang Kuantan yang dikenal dengan sebutan Rantau Kuantan pada saat selesai panen padi. Pada zaman dahulu sungai Batang Kuantan memegang peranan yang sangat penting sebagai media transportasi terutama untuk mengangkut hasil panen padi, kelapa, karet dan lainnya. Sebagai ungkapan kegembiraan karena mendapatkan hasil panen yang berlimpah para petani berlomba sambil mengangkut padi dengan perahu.

Pacu Godok
Lama-kelamaan acara pacu perahu sambil mengangkut padi berkembang menjadi pacu jalur. Pada waktu itu sebagai hadiahnya adalah berupa umbul-umbul berbentuk segitiga (tonggol) yang diperebutkan oleh anak pacu. Setelah selesai pacu maka diadakan acara makan makanan tradisional Rantau Kuantan berupa puluik kucuang, lopek, lomang batang dan godok.
Karena pada setiap ada acara pacu jalur selalu disediakan makanan berupa godok (sejenis makanan yang terbuat dari tepung di campur dengan pisang dan digoreng) sehingga acara ini sering juga disebut dengan pacu godok.

Seiring dengan perkembangan zaman pada era penjajahan Belanda acara pacu jalur ini oleh pemerintahan Hindia Belanda diadakan untuk memeriahkan Hari Ulang Tahun Ratu Wilhelmina yaitu ratu Kerajaan Belanda waktu itu. Setelah Indonesia merdeka acara pacu jalur diadakan untuk menyambut dan memeriahkan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang diadakan setiap tahun pada bulan Agustus sampai sekarang orang Rantau Kuantan menyebutnya dengan ‘Tambaru’ maksudnya Tahun Baru HUT Republik Indonesia.

Pacu Jalur terbesar di kota Teluk Kuantan
Event pacu jalur ini biasanya diadakan di beberapa kecamatan yang berada dalam wilayah Kabupaten Kuantan Singingi diantaranya di Kecamatan Kuantan Hilir yang diadakan di Tepian Lubuk Sobae Baserah, di Kecamatan Benai diadakan di Tepian Pincuran Sakti Pasar Benai, di Kecamatan Kuantan Mudik di Lubuk Jambi dan yang terbesar dan terneriah yang banyak dikunjungi oleh wisatawan terutama wisatawan lokal, domestik maupun manca negara adalah event Pacu Jalur yang diadakan di Kota Teluk Kuantan ibu kota Kabupaten Kuantan Singingi.

Nilai-nilai yang terkandung dalam acara Pacu Jalur.
Sebagai acara tradisi masyarakat tentunya pada event pacu jalur ini penuh dengan nilai-nilai yang terkandung didalamnya seperti nilai mistis dan magis, nilai gotong royong serta nilai seni dan budaya.
Nilai mistis dan magis ini terlihat masih kental sekali yakni berperannya dukun jalur pada setiap tahap ketika jalur akan ikut berpacu. Disini dukun jalur berperan dalam menentukan langkah kapan jalur harus turun ke sungai, kapan waktunya berangkat ke lokasi pacu jalur. Bahkan pada saat-saat akan mengisi jalur dan berangkat ke pancang start, jalur harus dibacakan mantra dulu oleh dukun jalur supaya jalurnya menang pada saat berpacu nantinya.
Sedangkan nilai gotong-royong sudah terlihat ketika penduduk desa yang ingin membuat jalur. Dimulai dari rapat desa pembentukan panitia/pengurus jalur, pengumpulan dana, ‘maelo’ atau menarik jalur dari hutan sampai ke desa, saat ikut acara pacu jalur semuanya dilakukan secara gotong-royong warga masyarakat desa yang memiliki jalur tersebut.
Nilai seni dan budaya terlihat pada hiasan, ukiran yang terdapat pada masing-masing jalur. Juga nilai-nilai berkesenian yang selalu menyertai acara pacu jalur berupa calempong rarak godang, randai dan sebagainya.

Tahap-tahap Pembuatan Jalur

Musyawarah Desa
Sebelum mengadakan musyawarah atau rapat desa kepala desa dengan pemuka masyarakat berembug untuk mengadakan rapat desa. Setelah waktu dan tempat untuk rapat disepakati maka kepala desa akan menyuruh tukang canang memukul canang untuk mengumumkan bahwa besok akan diadakan rapat desa membahas pembentukan penguru/panitia jalur. Bunyinya kira-kira seperti dibawah ini

“Hai urang kampuang iko la tibo pulo parintah dari Pak Wali. Isuak malam kito rapek mambontuak pangurus jaluar. Pamuda-pamudi diwajibkan datang isuak malam, sasudah sholat isya’ batompek di surau Siriah. . . . “
Artinya:
“Wahai orang desa telah tiba perintah pula dari kepala desa. Besok malam kita rapat membentuk pengurus jalur. Pemuda-pemudi diwajibkan datang besok malam, sesudah sholat Isya’ bertempat di surau Sirih . . . .”


Sebelum membuat jalur biasanya diadakan rapat desa yang dihadiri oleh segenap warga desa membentuk panitia/pengurus jalur. Setelah panitia atau pengurus terbentuk biasanya juga dibicarakan bagaimana untuk mendapatkan dana karena biaya pembuatan sebuah jalur menghabiskan puluhan juta rupiah dan siap tukang yang akan disuruh untuk membuat jalur tersebut.

Mencari kayu jalur ke hutan.
Tahap selanjutnya adalah mencari kayu jalur ke hutan, kayu yang dipilih haruslah kayu yang besar dan panjang yang memenuhi syarat untuk membuat sebuah jalur. Apabila kayu yang akan dijadikan jalur didapat, sebelum kayu ditebang harus dibacakan mantra terlebih dahulu dan melepaskan seekor ayam berwarna putih atau hitam sesuai dengan petunjuk sang dukun, sebagai pengganti kayu yang ditebang. Tukang jalur akan mengolah kayu jalur di dalam hutan menjadi jalur setengah jadi.

Tahap berikutnya adalah ‘maelo’ atau menarik jalur.
Sebelum acara maelo jalur Kepala desa seperti biasanya akan menyuruh pemukul canang untuk memberitahukan kepada seluruh warga desa bahwa esok pagi sesuai kesepakatan bersama warga desa akan mengadakan kegiatan ‘maelo’ atau menarik jalur dari hutan. Bunyinya kira-kira sebagai berikut:

“Wahai urang banjar iko la tibo pulo parintah dari Pak Wali. Isuak kolam kito maelo jaluar ka rimbo kukok. Nan jantan jaan lupo mambao ladiang, kapak, baliwuang cam. Na batino jaan lupo mambao nasi, ayier, kue, lopek, godok timbual, kalau dapek bao pulo lomang jo tapai untuak bokal kito maelo jalur . . . .
Artinya:

“Wahai orang-orang desa telah tiba pula perintah dari kepala desa. Besok pagi kita akan menarik jalur ke Rimba Kukok. Yang laki-laki jangan lupa membawa parang, kapak dan juga beliung.Yang perempuan jangan lupa membawa nasi, air, kue, lepat, godok, kalau dapat bawa juga lemang dan tapai untuk bekal kita menarik jalur. . . .”

Warga desa secara bersama-sama laki-laki dan perempuan dan juga mengundang warga desa tetangga mengadakan acara ‘maelo’ atau menarik jalur dari hutan sampai ke desa. Semua bekal berupa nasi, kue dan lauk-pauk untuk maelo jalur biasanya disediakan oleh warga desa yang membuat jalur sedangkan undangan tidak diwajibkan membawa bekal. Acara maelo jalur ini biasanya memakan waktu berbulan-bulan baru kayu jalur tadi sampai ke desa.
Setelah kayu jalur sampai ke desa maka tukang jalur melanjutkan pembuatan jalur sampai selesai

Mandiang jalur
Tahap berikutnya pembuatan jalur tradisional Kuantan Singingi adalah mendiang jalur. Mendiang berarti membakar jalur diatas api untuk membentuk badan jalur supaya kelihatan bagus dan rapih yang diharapkan menjadi jalur yang laju dan menjadi juara pada event-event pacu jalur nantinya. Pada saat acara mendiang jalur juga disertai acara kesenian seperti randai (melo drama) tradisional, calempong rarak godang atau acara berbalas pantun yang diiringi alunan biola.

Tahap terakhir adalah finishing
Pada tahap ini dilakukan pekerjaan-pekerjaan akhir untuk menghaluskan dan memperbaiki yang masih belum sempurna membuat dayung, silek bayuang dan sebagainya. Kemudian baru dilakukan pengecatan dan membuat hiasan dan ukiran agar jalur terlihat bagus dan mempunyai nilai seni.(yuf)